Membingkai Perjalanan Pengabdian: Kisah Wachid Nuraziz Musthafa di Desa Sepundu Hantu

oleh -
oleh
Wachid Nurraziz Musthafa bersama anak anak Sekolah Dasar di Desa Sepundu Hantu, Kecamatan Seruyan Hulu

SERUYANNEWS.COM- Saat Wachid Nuraziz Musthafa memulai perjalanan pengabdiannya di Desa Sepundu Hantu, Kecamatan Seruyan Hulu, Kabupaten Seruyan, ia tak pernah membayangkan betapa dalamnya pengalaman yang akan ia dapatkan.

Seorang pengajar muda melalui Program Indonesia Mengajar, Wachid menapaki perannya dengan penuh dedikasi dan semangat. Bagi seseorang yang terbiasa dengan kehidupan hiruk-pikuk kota seperti Jakarta, bertugas di wilayah terpencil seperti Desa Sepundu Hantu menjadi tantangan yang luar biasa.

Namun, ia memilih untuk melangkah, mengikuti panggilan hatinya untuk belajar dan mengabdi kepada masyarakat  di Kabupaten Seruyan, meskipun perjalanan untuk sampai ke desa setempat butuh waktu berhari hari lamanya.

Meskipun awalnya diliputi rasa takut, Wachid menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam kesederhanaan hidup di desa tersebut. Sambutan hangat dan dukungan luar biasa dari masyarakat setempat membuatnya merasa diterima dengan tulus.

Setiap hari bersama anak-anak dan masyarakat Desa Sepundu Hantu, Wachid bukan hanya mengajar, tetapi juga belajar banyak dari mereka. Mereka menjadi sumber inspirasi dan motivasi baginya.

Desa Sepundu Hantu bukan hanya kaya akan adat budaya dan kekayaan alam, tetapi juga penuh dengan semangat baginya. Meskipun jauh dari keramaian kota, anak-anak di desa tersebut tetap bersemangat untuk menuntut ilmu.

Namun, seperti setiap perjalanan memiliki akhir, masa tugas Wachid di Desa Sepundu Hantu pun harus berakhir. Meski berat meninggalkan tempat yang telah menjadi seperti rumah baginya, Wachid berpandangan bahwa perpisahan adalah bagian dari pengalaman.

Ia mengucapkan terima kasih kepada masyarakat, pemerintah daerah, dan semua pihak yang telah mendukungnya dalam misi pengabdian  untuk pendidikan.

Dalam perbincangan  bersama SERUYANNEWS.COM, Wachid menyampaikan harapannya  agar akses dan fasilitas Pendidikan  di Seruyan terus ditingkatkan, agar semakin banyak anak anak hebat yang bisa bersekolah setinggi tingginya. Tidak kalah penting,  peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru terutama untuk guru di pedalaman agar semakin ditingkatkan karena sejatinya guru merupakan ujung tombak dalam Pendidikan.

Dari pengalamannya di Desa Sepundu Hantu, Wachid mengambil pelajaran berharga tentang arti kesederhanaan dan keterbatasan. Baginya, keterbatasan bukanlah penghalang untuk mendapat akses pendidikan yang layak bagi setiap anak- anak desa.

Kisah perjalanan Wachid Nuraziz Musthafa di Desa Sepundu Hantu bukan sekadar sebuah cerita pengabdian, tetapi juga cerminan semangat dan kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. (FH)